Dua siklus 30 harian September Oktober yang nguras 17% EQ dari 20% yang dikasih Tuhan emang paling bisa bikin nano-nano.
Seneng. Banyak acara maba disana. Kapan lagi bisa mandang lesung pipi senior? Paling enggak ya kapan lagi bisa main mensyen di twitter? Duh melayang-layang.
Sedih. Nambahin beban Lymbic System “Otak Emosional” tempat EQ berkutat dan sia-sia dikeluarin buat marahin temen yang gak mau kerja dan seenaknya.
Kapok. Gak bakalan deh marah sampe segitunya lagi. Capek.
Neocortex “Otak Rasional” juga cukup tersiksa dengan jejalan Standar Lulusan yang harus dicapai di matkul-matkulnya.
Dosen? Gak bakal lupa sama geng pengajar mata kuliah fisika dasar I. Pak Tarman yang ngasih materi sambil duduk-duduk doang biar antar dosen-mahasiswa gak saling iri. Pak Edi yang style-nya kadang kayak mau mancing di Ranu Kumbolo dan Pak Sumaryono yang kocak berjiwa muda, tiap matkul ada aja guyonannya.
Bu Vita, pemberi senyum ke mahasiswa dengan kata “ya?” diakhir satu-dua kalimat umum juga kalimat penjelas di Matematika Dasar. Pak Tedy yang gak terlalu tinggi tapi paling ganteng kalo udah masuk kelas. Laser heroes yang pertama dipancarin ke ham putih gue bukan ke LCD kelas karna sibuknya gue balesin mentionan, duh. Tau Thor? Palunya? Pak Gofur dan lasernya identik dengan hal tadi. Bu Susi yang selalu ngingetin buat ngebersihin whiteboard dari tintanya setelah matkul usai, apapun itu. Berkali-kali beliau mengingatkan dan seisi kelas selalu lupa karena terlalu terkesima akan fananya pretest.
Dan tak akan pernah lupa, Pak San. Yang neges ngajarin kelas kalo nulis simbolisasi klorin itu bukan c besar l kecil dipisah, tapi c besar l kecil digangeng.
What a wonderfull nendes kombet memory.
The not so boring why?
Ketemu 9 anak ajaib yang kemudian kemana-mana grudukan.
Jadi sekumpulan mahasiswa sok penting padahal di kelas jarang ngasih attention ke dosen-dosen dan bikin ribut kantin sambil bicara haha-hihi gak akan ketemu ujungnya. Debatin senior item manis apa yang punya lesung pipi yang lebih cocok jadi jodoh. Mahasiswa mana yang otaknya agak bego-bego ajaib kayak sepuluh orang ini biar kalo diskusi kelas gak bikin jidat mengkerut cepat. Mecahin masalah Gionino apa Rasti yang berhak dikasiani. Tuhan………. ;)
Bukan pecah belah.
Jika kau musisi dengan gaya jazzymu dan dihadapkan pada pilihan bersatu-atap dengan musisi Rock n Roll atau dengan musisi Swing. Mana yang kau pilih?
Musisi Swing? That’s my idea. I’d prefer listen Mocca colaborate with Maliq n d’Essential rather than listen to Mocca with Cranberries in the same situation.
Analogy. That’s just my analogy.
Sedikit banyak ini masalah selera. Selera musik. Selera kuliner. Selera fashion bahkan selera bicara.
“Siapa cocok dengan siapa.”
Jiwa yang merasa dirinya “sreg” dan klop dengan jiwa lain yang tak jauh beda darinya akan lebih mudah merentangkan tangan untuk membuat pelukan dengan sendirinya. Dan dalam pelukan-pelukan tersebut, yang tak selalu hangat dan menenangkan, namun jiwa-jiwa tadi dapat merasa betapa sempurna dan bahagia pelukan mereka bahkan tak seperti pelukan-pelukan dari jiwa lain yang hanya menyimpan kedinginan dan rasa palsu.
Ya. Jiwa-jiwa tadi bukan seperti geng “Google-Powerranger” yang berikrar setia tak akan mengucap betapa hitamnya jiwa lain saat ia tak ada.
Bukan juga jiwa-jiwa pencetus rumus “tiga menit” seperti milik lima sahabat itu.
Have promise not to talking someone when they’re not in? We don’t!
Have a three minutes formula? We don’t
Hope we’re not a fake plastic in the earth